I
HATI, LAUTAN YANG BERGEJOLAK
malam begitu senyap,
diantara suara angin musim kemarau berhembus mencekam,
diantara suara goresan-goresan pena yang membuat tulisan,
baris demi baris diatas kertas
dengarkanlah...
dengarkanlah jantungku berdegub
dengarkanlah nadiku berdetak
dengarkanlah darahku berdesir
dengarkan getar kerinduan,
dengarkan getar qurun yang kita dambakan...
tak bisakah kau meraba gejolak hatiku?
lihatlah dengan cara berpikir yang bijaksana dan berbudaya
meskipun itu hanya sebuah rasa simpati yang abstrak
atau serangkai kata-kata konvensional yang menawarkan persahabatan, cukuplah bagiku
sejujurnya, aku tak pernah peduli pada mereka
biarkanlah mereka yang bicara terus berbicara
biarkan pikiran dengan hatinya terus bercakap-cakap
rangkaian perkataan yang diucapkan berapi-api
sebuah usaha agar ekspresinya jelas terlihat
karena hidup bukan hanya melulu mengenai kebusukan yang disembunyikan dibalik jubah kebijakan
tidak pula hanya mengenai tawa yang bertujuan menunjukan si empunya suara adalah orang yang lantang lagi gagah berani
dan mereka kira yang telah mereka lakukan itu sebuah revolusi?
apa yang bisa diperbuat oleh barisan yang jalan ditempat?
meskipun belenggu euforia heroisme selalu mengusik
tak tahu kenapa itu selalu mengganggu
tapi biarkanlah...
karena kita tahu, mungkin, superioritas bukan untuk dijadikan bahan propaganda
bukankah yang demikian adalah untuk ditindaki?
II
MASA LALU TELAH BERLALU
selalu ada bayangan dimana-mana,
itulah yang terjadi selama ini disini...
bayangan samar melayang dalam kekelaman malam
antara nyata dan tak ada, demikianlah adanya
seperti perahu yang berlayar menembus kabut
ditengah penyesuaian terhadap fase-fase kehidupan
membebaskan hidup dari sketsa imajinasi
usia muda,
tidak ada yang lebih baik dari usia muda
kita bisa hidup dalam fantasi sesuka kita
kadang-kadang aku masih merindukanya
ya! merindukannya
merindukan gairah delapan tahun yang lalu yang masih akrab pada setiap tarikan nafas
gairah yang ditimbulkan oleh emosi yang meledak-ledak
juga gairah yang ditimbulkan oleh ketidaksabaran
perasaan yang tidak pernah mengizinkan untuk sikap menunggu
apakah ini sebuah pekerjaan seorang arkeolog,
selalu menggali kenangan-kenangan lama?
sayangnya, semua mimpi-mimpiku hitam putih dan bisu
III
MEREKA YANG SEDANG ASYIK BERCINTA
sisa-sisa panas matahari yang membakar masih terasa
kerongkongan masih saja kerontang
kering...
kering...
kering...
sebuah semangat yang terlalu baik menerima kekalahan
tak ada kehidupan lagi dalam dirinya
biarkan yang terbaik menang dan ia terlihat seperti lelaki yang terluka,
ia benar-benar menginginkannya,
lalu lelaki lain datang dan membawanya pergi...
akhir dari sebuah hidup yang tak berguna
yang sia-sia
ini bukan kisah remaja yang menamai semua perasaan yang berkonotasi baik pada lawan jenisnya sebagai cinta
ini adalah mengenai kelanjutan suatu siklus manusia dan kemanusiaannya
IV
SEDIKIT PERGULATAN MELAWAN TAKDIR
disaat kita sudah memilih jalan hidup kita masing-masing,
selanjutnya kita harus menjalaninya...
peristiwa demi peristiwa terjadi sepertihalnya adegan-adegan dalam melodrama yang membosankan
layaknya sebuah lingkaran yang membosankan
lingkaran pelangi berwarna hitam
apakah ini lebih menyerupai seorang pengasingan yang berjalan-jalan menelusuri kebun kentang di siberia?
sesosok tubuh yang dikuasai oleh otak
yang dikontrol oleh intelegensia sepenuhnya
faktanya, kita tidak pernah bisa menghapus masa lalu seperti tidak bisanya kita lari dari kenyataan
keriuhan lontaran-lontaran lelucon yang tak lucu
V
JIKA AKU JATUH CINTA (LAGI)
sebagai seorang lelaki,
cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penentram jiwa
kini keteguhan hati ini ingin menunjukan ujudnya
keteguhan yang naif menggelitik hati
menyelami hati seorang gadis
menyelami dasarnya,
menelusuri palung-palungnya,
mengelus tabir hidupnya hingga tergetar
mempertautkan keduanya,
mempertautkan tujuan kedalam angan yang diidamkan
mempertautkan otak dan hati hingga melebur
aku akan membawanya kebawah sinar bulan yang terang,
yang dapat menghidupkan kecantikannya menjadi tiada tara
sesuatu yang melekat padanya yang membuat pandangan tidak bisa melewatkan begitu saja
membuat mata tertarik untuk memandangnya dan memandangnya lagi
mungkin terlalu berlebihan jika menganggapnya mirip sang peri
tetapi kesan yang dipancarkannya lebih real dari pada gadis-gadis cantik sekalipun
semburat naluri tentang kesempurnaan,
bagai sebuah karya seni berlabel masterpiece
gadis yang menampakan diri seolah dia adalah ratu perancis yang sedang duduk disinggasananya
apakah semua lelaki selalu percaya pada segala hal yang ingin dipercayainya?
menyentuh kesendirian
kembali dengan penuh harapan
buah pikiran dari otak yang cemerlang
VI
bukan,
ini bukan mengenai kulit luar yang terus menerus tergerus radiasi sinar ultra violet dan tergesek-gesek partikel yang berlalu-lalang
ini hanya serupa debu diangkasa,
dihempas angin,
dihembus bayu...
ada begitu banyak kawan didunia ini
selalu ingin mengatur hidup orang lain
memberikan saran
kejujuran yang masih tersisa dalam sanubari membatalkan niatan itu
tidak,
aku cukup tahu diri
aku tidak serupa anjing,
yang masih menggonggong disaat terjepit,
atau yang akan langsung menggigit disaat dilepaskan...
aku bukan orang yang kan meminta jantung setelahnya diberi hati...
aku tidak pernah menjadi serakah,
karena aku akan selalu mencukupkan diri terlebih dulu sebelum perencanaan-perencanaan dijalankan...
dan apa yang akan aku temui disana? bukan perkara keberhasilan ataupun kegagalan,
aka tetapi aku akan menemui sebuah pengalaman hidup dengan tanpa ada kata penyesalan,
bahkan untuk kesalahan yang paling tragis sekalipun
jalan pemda-bogor, 18 september 2009
Catatan:
prasasti untuk gerbang "udz'khuluu fissilmi kaafah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar