X
PROLOG SEBUAH EPILOG
AKu bukan sang pemimpi
Aku tak akan pernah bermimpi jika rasa takut masih menyelinap tuk meraihnya
Tidak akan pernah !!!
Ah, sebuah permulaan yang cukup ekstrem bukan ?
Di pagi tanpa kabut
Tanpa hawa dingin
Pagi yang cerah
Pagi itu kembali motivasi terpatri disini
Didalam dada
Lebih dalam dari tempat ma'rifat bersemayam
Ya, dilubuk fuad
Bukankah awal sebuah keberhasilan adalah restu ibu ?
Pagi itu aku mendapatkannya
Setelahnya insan yang melahirkanku itu mengalami koma,
kini, serasa aku dengan air mata ini membasuh sorga dikakinya
Ya, aku lelaki yang menangis
Bukan karena tak bisa menjenguknya dikala dia sakit
Bukan pula karena rasa rindu yang tak tertahankan
Bukan, bukan itu
Sekali lagi, akulah lelaki yang menangis
Menangis karena restunya
Karena mungkin aku tak bisa melihatnya lagi
Karena dia memantapkan ku untuk menatap lurus jalan yang masih terjal dihadapanku
Karena dia berucap bangga meski aku masih setengah jalan menuju pulau cita
Hari ini, kecuali pagi, sampai petang
Dalam langkah-langkah ku diantara paralelisasi rel kereta
Dalam langkah-langkah ku bertadabur bersama sang alam
Bertadaburnya dua makhluk ciptaan sang pencipta
Dalam orkestra dzikir pada tiap helaan nafas
Sang alam pun memperlihatkan tasbih yang jelas pada ku
AKu bersimpuh,
Bersujud atas segalanya tentang MU
Serupa Musa dibukit Tursina
XI
EPILOG
Tak akan pernah ada kata menunggu untuk sebuah kata sepakat
Setuju atau lupakan sama sekali
Kesempatan itu akan terus melaju
Melaju seperti anak panah lepas dari busurnya
Bergerak lurus menerobos waktu
Anggap saja untuk saat ini asumsi merupakan suatu kebenaran
Jikalaulah waktu menuntut suatu perubahan
Dari saat ke saat mengharuskan adanya suatu pembaruan
Lalu, kenapa kata tabu tidak dihilangkan dalam konteks percepatan ?
Ada apa dengan waktu ?
Apakah dunia akan berbeda dari detik ke detik ?
APakah lingkaran rutinitas itu adalah keabadian ?
Adakah arti untuk sebuah awal yang dipenuhi oleh optimisme yang membabi buta ?
APakah bunyi lonceng jam malam dapat menentukan arah sejarah ?
Seperti apakah momentum yang menandai saat-saat yang mengubah kehidupan ?
Tentang perubahan,
Tidak ada kata terlalu cepat
Tidak, jika kita mengenal Alexander The Great
Tidak pula ada kata terlambat
Tidak untuk Napoleon Bonaparte
Tidaklah terlalu kecil bagi sebuah aple yang terjatuh ke hidung Issac Newton
Namun, jangan tanya disini
Jika kemudian setelahnya mereka membawa kita kepada abad-abad kegelapan
Pernahkah terlintas jika sunset dikaki langit tidak indah untuk sebagian orang ?
Paling tidak bagi pialang di Wall Street
Dengan putus asa sedang meratapi index saham di senja penuh kesuraman
Menyaksikan mentari kapitalisme luruh tenggelam
Apakah ini berarti sosialisme akan berpesta ?
Mungkin juga tidak
Mungkinkah ini juga berarti sebuah perubahan ?
Perubahan yang muram bagi mereka
Perubahan adalah kepahlawanan ?
Mari kita berpikir untuk itu
Untuk ode yang bercerita mengenai manusia-manusia gagah berani
Untuk rasa ke-"teu honcewang"-an dan ke-"sumoreang"-an mereka
Untuk sikap "sinatria dilaga"
Untuk Semboyan "cadu mundur pantrang mulang mun maksud tacan laksana"
Untuk gegap gempita "sekali layar terbentang, surut kata berpantang"
Perubahan adalah pilihan hidup ?
Mari kita bergerak untuk itu
Sukabumi, 08 Maret 2009
Catatan:
Akhirnya hari ini, 13 Maret 2009, aku harus meninggalkan sukabumi,
tempat persemaian harapan, untuk mencari lahan yang subur untuk menanam tunas asa yang mulai tumbuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar