Kamis, 15 Juli 2010

SEIRAMA SEMESTA, CITA KITA BERSENANDUNG MERDU

sayang, kemarilah...
bawa tatapmu yang penuh tanya itu
yang bagaikan meteorit melintas serampangan dibenak kita
dicelah-celah asteroid menggumpalkan ragu

sayang,
kita sudah sepakat mendefinisikan ini bukan sekedar gejolak jiwa dua jenis anak manusia
bukan pula angkara yang semata mencari pelampiasan
bukan itu, bukan keduanya...

sayang,
ini demi rencana besar kita
untuk generasi kita kelak
sekarang kita beredar menjejaki titik-titik orbitasi gemintang sang pemantul terang
meski mungkin kan terasa begitu terjal
mungkin pula perihnya teramat menyakitkan

sayang,
eratkanlah genggaman kita
se-erat nebula memeluk andromeda
eratkan saat kita kan melewati waktu menembus ruang
pada rentang yaum yang akan dibayar
hingga bisa sampai ke ufuk semesta
tempat kita meningkahkan semua lagu

sayang,
sekarang singkirkan bimbang dibinar matamu
lalu, marilah kita mulai berlaku

Bandung, 15 Juli 2010 22:06

Sebuah Prasasti untuk Rencana Besar

Rabu, 16 Juni 2010

SEPENGGAL RAYUAN YANG KAU LARANG KU TULIS DI WALL FACEBOOK MU

senyuman mu menyimpulkan sebersit asa yang terpancar dibinar mata mu
meski waktu ku tak cukup banyak mempertemukan kita diperbatasan rindu
sayang...
yakinlah kisah ini kan mempertautkan kita dilingkaran gelora

Bandung, 15 Mei 2010
Prasasti Tentang Rayuan Untuk Hazar Widiya Sarah

04:17 PAGI, FAJAR INI HARUS JADI MILIK KITA

I
PADA PERTEMUAN ITU...

Mana tanganmu yang saat itu terulur tuk menggenggam ku yang sedang terlelap?
Mana senyum manismu yang saat itu tersungging untuk ku yang sedang menerawang kelam?
Mana semua itu yang membuat rinduku menginginkan mu selalu?
Yang menyadarkanku bila engkaulah bidadari yang selama ini kucari

II
SAYANG, BERTERIMA KASIH-LAH...

Sayang...
Berterima kasih-lah pada langit yang kelabu
Karenanya lah aku terlindung dari kedipan genit gemintang

Sayang...
Berterima kasih-lah pada angin yang berhembus semilir
Padanya yang menghantarkan bisikku padamu
Menghantarkan getaran yang tercipta diselasar hati

Sayang...
Berterima kasih-lah pada gerimis dan mentari
Pada mereka yang membentuk pelangi
Hingga ku dapat melingkarkannya dijari manismu

III
TENTANG SEBAIT PUISI YANG BERISI RAYUAN UNTUK MU

Bacalah puisiku...
Yang tertulis dilembar cintaku
Yang mendayu-dayu agar kau terayu
Biar dapat slalu kulihat senyum manismu yang melelehkan hati ini
Bacalah...

Bacalah puisiku...
Yang bercerita tentang hati yang tercuri
Yang bercerita tentang aku yang terpenjara cintamu diseumur hidupku
Bacalah puisiku yang bercerita...

Bacalah...
Puisiku adalah untaian kata haru
Puisiku adalah gempita asmara yang hebat
Puisiku adalah...

Bacalah...
Puisiku untuk mu
Puisiku untuk sang gadis yang telah bersedia menjadi detak dalam nadiku
Puisiku untuk sang maharani penawan imaji
Puisiku untuk mu, bacalah...

IV
DI UFUK INILAH PERTAUTAN KITA TERSIMPUL

Bidadariku...
Lekatkanlah dirimu dalam dekapanku
Lekatkan saat kita memandang cakrawala kurun yang kita cita-kan
Lekatkan pada sudut dimana kita, kau dan aku, mestinya bersama

Bidiadariku...
Ingatlah selalu saat kau berucap janji:
Kau kan mengukir namaku disetiap jengkal dinding hatimu,
Disetiap jejak langkahmu...
Dalam arti hadirku, kau yakinkan aku bila kau tak akan pernah beranjak pergi...

Bidadariku...
Pastikan pantulan rembulan ini menjadi milik kita
Menjadi pelita dari gelora didada
Menjadi penerang perjalanan kita melewati gulita

V
KITA DALAM PERJALANAN

Lelapkanlah sejenak lelahmu diperaduan
Biar sesaat setelahnya kita bisa lanjutkan perjalanan ini
Melayari samudera seribu gelombang
Kita tunjukan pada bebatuan karang jika teguh itu bukan hanya diam...

VI
SAAT ITU...

Membayangkanmu berada dalam pelukanku adalah saat yang paling indah dikala kita jauh,

Memahat raut cantik mu hingga terpatri dijiwa
Dirimu bidadari yang melingkarkan sayap asa dalam pelukan cita ku
Dalam kasih sayang tulus yang menjadi kebanggaan hidup untukku darimu
Disini ku kan melukismu, dalam kanvas peri kehidupan kita
Menjadikanmu mahakarya terindah kebanggaanku dan generasi kita kelak

Sayang...
Ku menantikan saat tiara madrasat al ula disematkan padamu

VII
AKTIVITAS PAGI

Sesaat setelah ku rasakan hangatnya mentari pagi,
Aku semakin yakin jika tak ada yang sehangat sapamu
Tak ada yang sehangat genggamanmu pada hatiku sehingga tak bisa terlepas lagi...

Terima kasih sayang, kau hidangkan sarapan pagi ini:
Secangkir teh hangat dan dua bungkus biskuit menemaniku menikmati wajah cantikmu...

Sayang, lihatlah anak-anak kita...
Ingatkan mereka tuk segera bersiap menyambut pagi...


Sebuah Prasasti Untuk Hazar Widya Sarah - Bandung, 07 Mei 2010, 04:17

BEBERAPA HAL TENTANG KITA: AKU DAN KAMU

Pada dendang rembulan asa kita terikat
Pada pendar badarnya yang benderang
Pada pantulan serupa binar matamu yang membuat hatiku berdebar

Tentang kasmaran yang dihabiskan dimalam-malam yang mentasbihkan kerinduan
Tentang semburat kabut cinta yang mengembunkan kasih sayang

Adalah kita, aku dan kamu…
Bertaut dalam pelukan untuk sang fajar
Untuk senyum mentari yang menghangatkan

Genteng, 31 Maret 2010 06:09

Sebuah Prasasti untuk Hazar Widiya Sarah

PAGI INI HATIKU BERBISIK PADAMU

Hai cantik…
Lihatlah lelaki disampingmu ini
Dia sedang gundah tentang hatinya bertanya
Bersediakah dirimu menjadi ummi madrasat al ula
Dan taman pelipur lara baginya???

Hai cantik…
Lihatlah lelaki disampingmu ini
Beri senyuman dan katakan “ya” untuknya
Karena dia begitu berharap padamu

Genteng, 25 Maret 2010 05:51

Sebuah Prasasti untuk Hazar Widiya Sarah

ILUSI YANG TAK BERJEJAK

februari ini hadir tanpa cita rasa
seperti kekasih dengan senyumannya yang tersamar
sepertinya aku, kau dan mereka membeku dalam perenungan
hingga hasrat akan mawar merah jambu pun lunglai layu
diterpa semilir pembawa awan hujan yang siap menumpahkan segala kepedihan
dan tahukah kau?
selalu ada kasih sayang disini, dihati ini
disaat kertas-kertas bertuliskan definisi cinta yang seperti bayangan
bayangan yang berkacak pinggang dibelakang mu itu,
bayangan penghisap yang haus darah
mereka berkata,
mungkin itu benar...
kemungkinan ini sejenis roh-roh halus yang bergentayangan
dan rasa ini kandas oleh tepukan dada yang membuat ku muak
itukah mau mu dibalik tangis yang syahdu?
laksana meteorit menghujani lembah dijiwa hingga menggelepar
lalu?
karena aku kan ke utara membelah horison senja
ucapkan saja salam pada ilalang
selagi hujan memberinya semangat perlawanan
desing dan desau membahanakan frase-frase tentang ironi yang patriotik
jika saja dunia ini dirajut oleh sulaman rasa
pada perandaian semua jalinan belaka dari anyaman emosi yang menggebu
katakan,
katakanlah...

Disuatu tempat, 22 Februari 2010
Prasasti untuk sebuah perjalanan

KAMU DIBAWAH HUJAN CAHAYA REMBULAN

sayang,
sore ini hujan membasahi bogor dengan rinainya
membasahi mawar dalam pot dan menggugurkan kelopaknya

sayang,
sore ini hujan membawa lamunanku padamu
pada gemercik rindu

sayang,
sore ini ditelevisi ku lihat savana berilalang liar
adakah itu tempat pertemuan yang kan dijanjikan?
ataukah kita kan bersua dipantai?
dibebatuan karang?
ataukah ku kan menjumpaimu sedang bermandi cahaya rembulan?
entahlah...

sayang,
yang pasti kini aku mengingatmu
sore ini disaat hujan


Merdeka-Bogor, 11 Oktober 2009
Prasasti untuk sang dewi

KARENA DIRIMU TERCIPTA UNTUKKU, MENDEKATLAH DAN YAKINKAN DIRIKU

duhai dinda, terimalah genggaman tanganku
jika ini akan diikat oleh pelangi menjadi abadi
dan hanya jika seperti mercusuar mengundang sampan tuk bersauh
bukalah hatimu, lalu biarkan aku bersama setia ini luruh padanya...

duhai dinda, berdirilah disampingku dan mulai samakan langkah
jika memang kau yakin mentari asa adalah milik kita
dan hanya jika berderap seperti serdadu berparade menuju nirwana
lalu, kita akan menyanyikan ode tentang epos cinta kita
melengking membelah angkasa
meredam hymne nyinyir akan ironi kau dan aku
ironi tentang punguk merentang busur, membidik purnama

duhai dinda, lihatlah pagi telah menjelang
bukan lagi malam berselimut mimpi terselubung temaram



Parung-Merdeka-Batutulis-Sukasari-Warung Jambu-Depok, 30 Oktober 2009
Sebuah Prasasti untuk "Melati Berkerudung Awan Bercadar Embun"

Catatan:
Terima kasih untuk Neka Tragedinita,
ade yang selalu menyemangati aa-nya ini untuk terus mengejar gadis diseberang mimpi,
yang selalu mau berbagi cerita, yang selalu memberi inspirasi,
yang telah menrjemahkan adegan balkon-nya romeo and julliet,
dan yang lain-lainnya...
"ma'af ya de, ini bukan puisi romantis.
soalnya sulit bikin puisi romantis diakhir bulan dan objeknya masih imajiner, hehehehe....."

TENTANG SEORANG LELAKI YANG MENYUSURI SUATU JALAN DISUATU MALAM DI BULAN SEPTEMBER

I
HATI, LAUTAN YANG BERGEJOLAK

malam begitu senyap,
diantara suara angin musim kemarau berhembus mencekam,
diantara suara goresan-goresan pena yang membuat tulisan,
baris demi baris diatas kertas
dengarkanlah...
dengarkanlah jantungku berdegub
dengarkanlah nadiku berdetak
dengarkanlah darahku berdesir
dengarkan getar kerinduan,
dengarkan getar qurun yang kita dambakan...

tak bisakah kau meraba gejolak hatiku?
lihatlah dengan cara berpikir yang bijaksana dan berbudaya
meskipun itu hanya sebuah rasa simpati yang abstrak
atau serangkai kata-kata konvensional yang menawarkan persahabatan, cukuplah bagiku
sejujurnya, aku tak pernah peduli pada mereka
biarkanlah mereka yang bicara terus berbicara
biarkan pikiran dengan hatinya terus bercakap-cakap
rangkaian perkataan yang diucapkan berapi-api
sebuah usaha agar ekspresinya jelas terlihat
karena hidup bukan hanya melulu mengenai kebusukan yang disembunyikan dibalik jubah kebijakan
tidak pula hanya mengenai tawa yang bertujuan menunjukan si empunya suara adalah orang yang lantang lagi gagah berani
dan mereka kira yang telah mereka lakukan itu sebuah revolusi?
apa yang bisa diperbuat oleh barisan yang jalan ditempat?
meskipun belenggu euforia heroisme selalu mengusik
tak tahu kenapa itu selalu mengganggu
tapi biarkanlah...
karena kita tahu, mungkin, superioritas bukan untuk dijadikan bahan propaganda
bukankah yang demikian adalah untuk ditindaki?


II
MASA LALU TELAH BERLALU

selalu ada bayangan dimana-mana,
itulah yang terjadi selama ini disini...
bayangan samar melayang dalam kekelaman malam
antara nyata dan tak ada, demikianlah adanya
seperti perahu yang berlayar menembus kabut
ditengah penyesuaian terhadap fase-fase kehidupan
membebaskan hidup dari sketsa imajinasi

usia muda,
tidak ada yang lebih baik dari usia muda
kita bisa hidup dalam fantasi sesuka kita
kadang-kadang aku masih merindukanya
ya! merindukannya
merindukan gairah delapan tahun yang lalu yang masih akrab pada setiap tarikan nafas
gairah yang ditimbulkan oleh emosi yang meledak-ledak
juga gairah yang ditimbulkan oleh ketidaksabaran
perasaan yang tidak pernah mengizinkan untuk sikap menunggu

apakah ini sebuah pekerjaan seorang arkeolog,
selalu menggali kenangan-kenangan lama?
sayangnya, semua mimpi-mimpiku hitam putih dan bisu


III
MEREKA YANG SEDANG ASYIK BERCINTA

sisa-sisa panas matahari yang membakar masih terasa
kerongkongan masih saja kerontang
kering...
kering...
kering...

sebuah semangat yang terlalu baik menerima kekalahan
tak ada kehidupan lagi dalam dirinya
biarkan yang terbaik menang dan ia terlihat seperti lelaki yang terluka,
ia benar-benar menginginkannya,
lalu lelaki lain datang dan membawanya pergi...
akhir dari sebuah hidup yang tak berguna
yang sia-sia

ini bukan kisah remaja yang menamai semua perasaan yang berkonotasi baik pada lawan jenisnya sebagai cinta
ini adalah mengenai kelanjutan suatu siklus manusia dan kemanusiaannya



IV
SEDIKIT PERGULATAN MELAWAN TAKDIR

disaat kita sudah memilih jalan hidup kita masing-masing,
selanjutnya kita harus menjalaninya...

peristiwa demi peristiwa terjadi sepertihalnya adegan-adegan dalam melodrama yang membosankan
layaknya sebuah lingkaran yang membosankan
lingkaran pelangi berwarna hitam
apakah ini lebih menyerupai seorang pengasingan yang berjalan-jalan menelusuri kebun kentang di siberia?
sesosok tubuh yang dikuasai oleh otak
yang dikontrol oleh intelegensia sepenuhnya

faktanya, kita tidak pernah bisa menghapus masa lalu seperti tidak bisanya kita lari dari kenyataan
keriuhan lontaran-lontaran lelucon yang tak lucu


V
JIKA AKU JATUH CINTA (LAGI)

sebagai seorang lelaki,
cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penentram jiwa
kini keteguhan hati ini ingin menunjukan ujudnya
keteguhan yang naif menggelitik hati

menyelami hati seorang gadis
menyelami dasarnya,
menelusuri palung-palungnya,
mengelus tabir hidupnya hingga tergetar

mempertautkan keduanya,
mempertautkan tujuan kedalam angan yang diidamkan
mempertautkan otak dan hati hingga melebur

aku akan membawanya kebawah sinar bulan yang terang,
yang dapat menghidupkan kecantikannya menjadi tiada tara
sesuatu yang melekat padanya yang membuat pandangan tidak bisa melewatkan begitu saja
membuat mata tertarik untuk memandangnya dan memandangnya lagi
mungkin terlalu berlebihan jika menganggapnya mirip sang peri
tetapi kesan yang dipancarkannya lebih real dari pada gadis-gadis cantik sekalipun


semburat naluri tentang kesempurnaan,
bagai sebuah karya seni berlabel masterpiece
gadis yang menampakan diri seolah dia adalah ratu perancis yang sedang duduk disinggasananya

apakah semua lelaki selalu percaya pada segala hal yang ingin dipercayainya?
menyentuh kesendirian
kembali dengan penuh harapan
buah pikiran dari otak yang cemerlang


VI


bukan,
ini bukan mengenai kulit luar yang terus menerus tergerus radiasi sinar ultra violet dan tergesek-gesek partikel yang berlalu-lalang
ini hanya serupa debu diangkasa,
dihempas angin,
dihembus bayu...

ada begitu banyak kawan didunia ini
selalu ingin mengatur hidup orang lain
memberikan saran

kejujuran yang masih tersisa dalam sanubari membatalkan niatan itu
tidak,
aku cukup tahu diri
aku tidak serupa anjing,
yang masih menggonggong disaat terjepit,
atau yang akan langsung menggigit disaat dilepaskan...
aku bukan orang yang kan meminta jantung setelahnya diberi hati...
aku tidak pernah menjadi serakah,
karena aku akan selalu mencukupkan diri terlebih dulu sebelum perencanaan-perencanaan dijalankan...
dan apa yang akan aku temui disana? bukan perkara keberhasilan ataupun kegagalan,
aka tetapi aku akan menemui sebuah pengalaman hidup dengan tanpa ada kata penyesalan,
bahkan untuk kesalahan yang paling tragis sekalipun



jalan pemda-bogor, 18 september 2009

Catatan:
prasasti untuk gerbang "udz'khuluu fissilmi kaafah"

PRASASTI UNTUK SEBUAH PERUBAHAN II

X
PROLOG SEBUAH EPILOG

AKu bukan sang pemimpi
Aku tak akan pernah bermimpi jika rasa takut masih menyelinap tuk meraihnya
Tidak akan pernah !!!

Ah, sebuah permulaan yang cukup ekstrem bukan ?

Di pagi tanpa kabut
Tanpa hawa dingin
Pagi yang cerah

Pagi itu kembali motivasi terpatri disini
Didalam dada
Lebih dalam dari tempat ma'rifat bersemayam
Ya, dilubuk fuad

Bukankah awal sebuah keberhasilan adalah restu ibu ?
Pagi itu aku mendapatkannya
Setelahnya insan yang melahirkanku itu mengalami koma,
kini, serasa aku dengan air mata ini membasuh sorga dikakinya

Ya, aku lelaki yang menangis
Bukan karena tak bisa menjenguknya dikala dia sakit
Bukan pula karena rasa rindu yang tak tertahankan
Bukan, bukan itu

Sekali lagi, akulah lelaki yang menangis
Menangis karena restunya
Karena mungkin aku tak bisa melihatnya lagi
Karena dia memantapkan ku untuk menatap lurus jalan yang masih terjal dihadapanku
Karena dia berucap bangga meski aku masih setengah jalan menuju pulau cita

Hari ini, kecuali pagi, sampai petang
Dalam langkah-langkah ku diantara paralelisasi rel kereta
Dalam langkah-langkah ku bertadabur bersama sang alam
Bertadaburnya dua makhluk ciptaan sang pencipta
Dalam orkestra dzikir pada tiap helaan nafas
Sang alam pun memperlihatkan tasbih yang jelas pada ku
AKu bersimpuh,
Bersujud atas segalanya tentang MU
Serupa Musa dibukit Tursina


XI
EPILOG

Tak akan pernah ada kata menunggu untuk sebuah kata sepakat
Setuju atau lupakan sama sekali
Kesempatan itu akan terus melaju
Melaju seperti anak panah lepas dari busurnya
Bergerak lurus menerobos waktu

Anggap saja untuk saat ini asumsi merupakan suatu kebenaran
Jikalaulah waktu menuntut suatu perubahan
Dari saat ke saat mengharuskan adanya suatu pembaruan
Lalu, kenapa kata tabu tidak dihilangkan dalam konteks percepatan ?

Ada apa dengan waktu ?
Apakah dunia akan berbeda dari detik ke detik ?
APakah lingkaran rutinitas itu adalah keabadian ?
Adakah arti untuk sebuah awal yang dipenuhi oleh optimisme yang membabi buta ?
APakah bunyi lonceng jam malam dapat menentukan arah sejarah ?
Seperti apakah momentum yang menandai saat-saat yang mengubah kehidupan ?

Tentang perubahan,
Tidak ada kata terlalu cepat
Tidak, jika kita mengenal Alexander The Great
Tidak pula ada kata terlambat
Tidak untuk Napoleon Bonaparte
Tidaklah terlalu kecil bagi sebuah aple yang terjatuh ke hidung Issac Newton
Namun, jangan tanya disini
Jika kemudian setelahnya mereka membawa kita kepada abad-abad kegelapan

Pernahkah terlintas jika sunset dikaki langit tidak indah untuk sebagian orang ?
Paling tidak bagi pialang di Wall Street
Dengan putus asa sedang meratapi index saham di senja penuh kesuraman
Menyaksikan mentari kapitalisme luruh tenggelam
Apakah ini berarti sosialisme akan berpesta ?
Mungkin juga tidak
Mungkinkah ini juga berarti sebuah perubahan ?
Perubahan yang muram bagi mereka

Perubahan adalah kepahlawanan ?
Mari kita berpikir untuk itu
Untuk ode yang bercerita mengenai manusia-manusia gagah berani
Untuk rasa ke-"teu honcewang"-an dan ke-"sumoreang"-an mereka
Untuk sikap "sinatria dilaga"
Untuk Semboyan "cadu mundur pantrang mulang mun maksud tacan laksana"
Untuk gegap gempita "sekali layar terbentang, surut kata berpantang"

Perubahan adalah pilihan hidup ?
Mari kita bergerak untuk itu


Sukabumi, 08 Maret 2009

Catatan:
Akhirnya hari ini, 13 Maret 2009, aku harus meninggalkan sukabumi,
tempat persemaian harapan, untuk mencari lahan yang subur untuk menanam tunas asa yang mulai tumbuh.

PRASASTI UNTUK SEBUAH PERUBAHAN

I
PROLOG

Mungkin ini hanya merupakan penulisan ulang dari naskah-naskah terdahulu
Sebuah re-definisi dari fundamental yang telah diletakan
Dan kalaupun mau dicari perbedaannya
Mungkin ini akan lebih bersifat pragmastis terhadap design yang futuristis
Diantara keduanya, yang kini, sedang dicoba untuk dikombinasikan secara harmonis
Satu sikap ? mungkin
Suatu sikap menghadapi keprihatinan atas rendahnya tingkat konsistensi dan follow up

Sebagian orang menyebutnya zona aman,
Sebagian lagi menyebutnya sebagai stabilitas,
Tapi, aku sepakat dengan Ari Lasso bahwa itu adalah suatu "keseimbangan"

Masih dalam rangka memperkokoh sendi-sendi untuk tetap solid dan mengkristal
Masih terbagi kedalam 3 (tiga) fase : perencanaan, implementasi dan evaluasi
Masih berharap akan lahirnya satu kedewasaan dalam berfikir dan bertindak
Masih berharap akan lahirnya rasa tanggung jawab
Masih berharap hal ini akan mengalir kearah jawaban atas harapan-harapan terdahulu


II
SUNSET TERAKHIR DI TELUK PALABUHANRATU

Aku merasakan beda memandang sunset itu kali ini
Aroma yang berbeda
Sensasi yang berbeda
Dari sudut pandang lain ku melihatnya
Bukan dibawah mercusuar, tempat biasa dimana aku mencurah segala gundah
Bukan pula di bebatuan karang, tempat ku berkasih-kasih semasa remaja
Bukan disana
Aku melihatnya disudut lain

Ku memandangnya
Petang ini
Mentari setengah tercelup kedalam samudera
Pelukan cakrawala tak jua kuat menahan lajunya
Laut jingga
Kaki langit menjingga
Sunset pun menghias pelupuk mata
Tapi kali ini ku merasa tak seperti biasa


III
KETIKA IBU KU MEMBERI MOTIVASI.....

Jangan khawatir, gadis itu menunggu disana
Tumbuhlah, nak
Persiapkan segalanya
Ibu percaya, kamu dapat melakukannya

Jangan pernah membayangkan dirimu begitu rumit
Segalanya tentang mu, Ibu mengerti
Dia pun pasti memahami
Jangan panik, hanya berlakulah dengan benar

Tak perlu terbebani dengan kemewahan asa
Kamu sudah benar
Kamu dengan impian sederhana mu itu
Walau kamu melihat jalan berliku menuju kesana
Tentu saja, itulah resikonya bukan???

Anak ku, akan tiba saatnya
Jika rumah mungil dan kebun yang luas itu telah ada
Seperti dalam mimpi mu
Dia kan hadir disamping mu
Dalam rumah dengan perpustakaan abadi

Dia akan memberikan kepada mu anak-anak yang sehat dan cerdas
Dia akan mendidiknya dengan baik
Menjadikan mereka seperti mu
Seperti anak ku, seperti mu

Kau akan menemukannya
Dia akan menyapa mu sehangat mentari pagi
Menentramkan mu dengan senyum tulusnya
Akan membebaskan mu dari kesendirian
Dari kesepian dan keterasingan

Pada saat itu, ketika telah tiba waktunya
Kamu akan seperti menggenggam dunia
Tak akan ada keinginan lain lagi
Kamu akan meraihnya
Buat Ibu mu ini bangga, nak
Ibu tahu, kamulah yang terbaik


IV
CATATAN AKHIR MASA INCUBASI

Tekanan tak akan lagi membuat aku berlari dan menjauh
Tak perlu termenung
Jika pendulum tak jua berayun
Serupa godot yang dinanti tak jua menampakan diri
Aku tak peduli

Yang terpenting adalah sebuah hasil akhir
Hasil dengan akhir aku bukan seorang pecundang
Karena terkurung kesepian sama saja berjabat tangan dengan kegetiran
Aku akan tetap berhias dengan senyuman
Meski ajal menjemput
Meski tidak ada bidadari penyelamat
Karena aku tau, swargaloka itu tidak pernah ada

Tetap berpegang pada cita-cita dan harapan
Tetap berpegang untuk segalanya
Menatap lurus kearah cita nun jauh disana
Saatnya kini aku berdamai dengan kenyataan

Tentang mimpi yang sederhana
Rasakanlah getarannya
Getaran yang terasa ketika penderitaannya dituai


V
TELAH TERJADI TRAGEDI

Kebanggaan telah layak disematkan padanya
Karena semua pesan telah dia sampaikan
Karena darah dan air mata telah dia tukarkan
Karena dia telah melakukan sesuatu

Dan tragedinya adalah dunia tak siap untuk menerima kenyataan seperti itu


VI
AKU ADALAH

Aku
Adalah yang menggenggam motivasi
menggenggam harap
Adalah yang menelan pahitnya kenyataan
Adalah yang tak akan pernah menjadikan tragedi sebagai sebuah akhir

Aku
Adalah yang telah menghadapi rentang waktu yang mengerikan
Adalah yang telah menjalani semua jenis kesendirian dan keterasingan
Adalah yang berada dalam ambisi untuk menggenggam sejenis dunia


VII
UMMI MADRASAT AL ULA

Hanya karena inilah ku berlutut dihadapan mu
Hanya untuk, aku dan kamu, bersama
Untuk menuntaskan arsitektur peradaban ini
Berlaku atasnya
Atas anak-anak kita, generasi kita

Hanya karena inilah aku memohon
Untuk menyelesaikan pembangunan arsitektur peradaban ini
Berlaku atas kita
Aku, kamu dan anak-anak kita
Melebur dalam fungsi kemanusiaan
Demi eksistensi sesuatu yang telah diajarkan
Agar berlaku menurut hakikat penciptaan kita


VIII
TAMAN PELIPUR LARA, DESIGN ITU TELAH ADA

Wahai engkau taman pelipur lara
Sang bidadari yang membasuh semua luka yang tergurat
Mendekatlah padaku
Kuingin selalu mendengar bisikan mesra mu
Bisikan yang meyakinkan ku
Engkaulah sang penghias kalbu

Wahai engkau taman pelipur lara
Puteri penghias mahligai
Yang bertahta dengan pengertian akan kegelisahan ku
Yang bertahta dengan pengertian yang meredam kecewa yang tercipta

Wahai engkau taman pelipur lara
Abadilah bersama ku
Bersama dalam gerak langkah yang kan kita lewati
Bersama dalam kejujuran yang menyatukan hati
Bersama dalam tarikan nafas dan detak nadi

Wahai engkau taman pelipur lara
Jadilah prisma dihati ku
Jadilah prisma yang mengurai idea-idea yang tercurah dari sel-sel kelabu ini
Mengurainya menjadi sejenis warna pelangi


IX
LELAKI INI

Lelaki ini yang kan kau dapati
Lelaki dengan komitmen yang tak mengenal kadaluarsa
Lelaki yang kan memberikan yang terbaik yang mampu dilakukan
Lelaki dengan keutuhan cinta yang paripurna

Lelaki inilah yang kan kau dapati




Sukabumi, 02 Maret 2009

Catatan:
Aku butuh dua tahun lagi untuk mempersiapkan segalanya
Aku butuh satu generasi untuk memperlihatkan hasilnya

DIALEKTIKA SEPI

I

Demi masa-masa yang tercecer
Demi segala ambisi yang telah terbakar habis
Demi masa lalu yang hilang musnah
Apakah kesejukan itu harus pedih terasa ?
Manakala embun menetes di hati penuh luka
Untuk rasa nyaman itu
Untuk segalanya
Harus sebanyak apa lagi ku bayar ?
Berapa ?

II

"Quo vadis, quo vadis !!!
Terus menggema memekakan telinga
"Quo vadis, quo vadis !!!
Ya! aku mendengar
Aku tidak buta
Aku tahu!!!
Melankolisme adalah tembok ratapan
Sebuah romansa
Ah, itu hanyalah ilusi

III

Cogito ergo sum
Aku berpikir, kenapa luka itu masih tetap saja ada ?
Sebuah fatamorgana tentang panta rei
Tentang sungai yang mengalun dibawah rembulan
Maka, jangan menggoda ku untuk berpikir lagi
Aku muak dilena secawan logika

IV

Seperti waktu yang tak bisa menunggu
Aku pun harus terus berderap
Merayap,
Merangkak...
Bukankah hidup itu adalah gerak ?

Menyapa mu, malaikal maut, di malam ini
Digerbang kematian dibunuh sepi
Diatas luka-luka yang membusukkan hati
Apakah aku harus bergetar karena gentar ?

Saat asa merajai segala kepingan tingkah
Ku tunggu hingga genta batas waktu memenggalnya
Sudahlah, tak akan ku paksakan
Jika pendulum tak jua berayun

V

Aku, si anak hilang
Mencari ruang hati tempat untuk kembali
Untuk sekedar tertidur nyenyak dibalik selimut pengertian
Mencari jawaban dari segala kegelisahan yang ada
Memberi arti atas kata kecewa
Tentang kejujuran yang tertambat
Dan kebohongan adalah suatu pengkhianatan tak termaafkan
Meski konsepsi merupakan harga mati
Aku tetap menanti sang bidadari hingga berkata
Akankah larassatie sudi berkata
"Yakinlah..."

Sukabumi, 11-19 Januari 2009

Catatan:
"Pada malam-malam yang kelewat larut
Saat aku menarik diri dari garis orbitasi
Melambungkan selayang pandang
Menghabiskan secangkir kopi bersama mereka
(Hegel, Kirkegaard, Tan Malaka, Descrates, Marx dan Sarte)
Berbantah kata tentang trauma dan phobia
Trauma adanya di benak, sedang phobia ada di hati
Sebuah kesimpulan adalah "Dialektika Sepi"

LITERATUR REVOLUSI

apa daya bahtera kita sudah kandas
tinggal bertumpu pada biduk untuk melaju
menyampaikan revolusi hingga pelabuhan harapan
selagi bisa meninjau bintang timur penuh kemilau
selagi ada semangat dan kerja keras mendesing menderu padaku
gugusan pengalaman dan percaya diri menyeru sebuah kerinduan
aku untuk transformasi budaya

engineering room- wednesday, february 13 2008