I
PROLOG
Mungkin ini hanya merupakan penulisan ulang dari naskah-naskah terdahulu
Sebuah re-definisi dari fundamental yang telah diletakan
Dan kalaupun mau dicari perbedaannya
Mungkin ini akan lebih bersifat pragmastis terhadap design yang futuristis
Diantara keduanya, yang kini, sedang dicoba untuk dikombinasikan secara harmonis
Satu sikap ? mungkin
Suatu sikap menghadapi keprihatinan atas rendahnya tingkat konsistensi dan follow up
Sebagian orang menyebutnya zona aman,
Sebagian lagi menyebutnya sebagai stabilitas,
Tapi, aku sepakat dengan Ari Lasso bahwa itu adalah suatu "keseimbangan"
Masih dalam rangka memperkokoh sendi-sendi untuk tetap solid dan mengkristal
Masih terbagi kedalam 3 (tiga) fase : perencanaan, implementasi dan evaluasi
Masih berharap akan lahirnya satu kedewasaan dalam berfikir dan bertindak
Masih berharap akan lahirnya rasa tanggung jawab
Masih berharap hal ini akan mengalir kearah jawaban atas harapan-harapan terdahulu
II
SUNSET TERAKHIR DI TELUK PALABUHANRATU
Aku merasakan beda memandang sunset itu kali ini
Aroma yang berbeda
Sensasi yang berbeda
Dari sudut pandang lain ku melihatnya
Bukan dibawah mercusuar, tempat biasa dimana aku mencurah segala gundah
Bukan pula di bebatuan karang, tempat ku berkasih-kasih semasa remaja
Bukan disana
Aku melihatnya disudut lain
Ku memandangnya
Petang ini
Mentari setengah tercelup kedalam samudera
Pelukan cakrawala tak jua kuat menahan lajunya
Laut jingga
Kaki langit menjingga
Sunset pun menghias pelupuk mata
Tapi kali ini ku merasa tak seperti biasa
III
KETIKA IBU KU MEMBERI MOTIVASI.....
Jangan khawatir, gadis itu menunggu disana
Tumbuhlah, nak
Persiapkan segalanya
Ibu percaya, kamu dapat melakukannya
Jangan pernah membayangkan dirimu begitu rumit
Segalanya tentang mu, Ibu mengerti
Dia pun pasti memahami
Jangan panik, hanya berlakulah dengan benar
Tak perlu terbebani dengan kemewahan asa
Kamu sudah benar
Kamu dengan impian sederhana mu itu
Walau kamu melihat jalan berliku menuju kesana
Tentu saja, itulah resikonya bukan???
Anak ku, akan tiba saatnya
Jika rumah mungil dan kebun yang luas itu telah ada
Seperti dalam mimpi mu
Dia kan hadir disamping mu
Dalam rumah dengan perpustakaan abadi
Dia akan memberikan kepada mu anak-anak yang sehat dan cerdas
Dia akan mendidiknya dengan baik
Menjadikan mereka seperti mu
Seperti anak ku, seperti mu
Kau akan menemukannya
Dia akan menyapa mu sehangat mentari pagi
Menentramkan mu dengan senyum tulusnya
Akan membebaskan mu dari kesendirian
Dari kesepian dan keterasingan
Pada saat itu, ketika telah tiba waktunya
Kamu akan seperti menggenggam dunia
Tak akan ada keinginan lain lagi
Kamu akan meraihnya
Buat Ibu mu ini bangga, nak
Ibu tahu, kamulah yang terbaik
IV
CATATAN AKHIR MASA INCUBASI
Tekanan tak akan lagi membuat aku berlari dan menjauh
Tak perlu termenung
Jika pendulum tak jua berayun
Serupa godot yang dinanti tak jua menampakan diri
Aku tak peduli
Yang terpenting adalah sebuah hasil akhir
Hasil dengan akhir aku bukan seorang pecundang
Karena terkurung kesepian sama saja berjabat tangan dengan kegetiran
Aku akan tetap berhias dengan senyuman
Meski ajal menjemput
Meski tidak ada bidadari penyelamat
Karena aku tau, swargaloka itu tidak pernah ada
Tetap berpegang pada cita-cita dan harapan
Tetap berpegang untuk segalanya
Menatap lurus kearah cita nun jauh disana
Saatnya kini aku berdamai dengan kenyataan
Tentang mimpi yang sederhana
Rasakanlah getarannya
Getaran yang terasa ketika penderitaannya dituai
V
TELAH TERJADI TRAGEDI
Kebanggaan telah layak disematkan padanya
Karena semua pesan telah dia sampaikan
Karena darah dan air mata telah dia tukarkan
Karena dia telah melakukan sesuatu
Dan tragedinya adalah dunia tak siap untuk menerima kenyataan seperti itu
VI
AKU ADALAH
Aku
Adalah yang menggenggam motivasi
menggenggam harap
Adalah yang menelan pahitnya kenyataan
Adalah yang tak akan pernah menjadikan tragedi sebagai sebuah akhir
Aku
Adalah yang telah menghadapi rentang waktu yang mengerikan
Adalah yang telah menjalani semua jenis kesendirian dan keterasingan
Adalah yang berada dalam ambisi untuk menggenggam sejenis dunia
VII
UMMI MADRASAT AL ULA
Hanya karena inilah ku berlutut dihadapan mu
Hanya untuk, aku dan kamu, bersama
Untuk menuntaskan arsitektur peradaban ini
Berlaku atasnya
Atas anak-anak kita, generasi kita
Hanya karena inilah aku memohon
Untuk menyelesaikan pembangunan arsitektur peradaban ini
Berlaku atas kita
Aku, kamu dan anak-anak kita
Melebur dalam fungsi kemanusiaan
Demi eksistensi sesuatu yang telah diajarkan
Agar berlaku menurut hakikat penciptaan kita
VIII
TAMAN PELIPUR LARA, DESIGN ITU TELAH ADA
Wahai engkau taman pelipur lara
Sang bidadari yang membasuh semua luka yang tergurat
Mendekatlah padaku
Kuingin selalu mendengar bisikan mesra mu
Bisikan yang meyakinkan ku
Engkaulah sang penghias kalbu
Wahai engkau taman pelipur lara
Puteri penghias mahligai
Yang bertahta dengan pengertian akan kegelisahan ku
Yang bertahta dengan pengertian yang meredam kecewa yang tercipta
Wahai engkau taman pelipur lara
Abadilah bersama ku
Bersama dalam gerak langkah yang kan kita lewati
Bersama dalam kejujuran yang menyatukan hati
Bersama dalam tarikan nafas dan detak nadi
Wahai engkau taman pelipur lara
Jadilah prisma dihati ku
Jadilah prisma yang mengurai idea-idea yang tercurah dari sel-sel kelabu ini
Mengurainya menjadi sejenis warna pelangi
IX
LELAKI INI
Lelaki ini yang kan kau dapati
Lelaki dengan komitmen yang tak mengenal kadaluarsa
Lelaki yang kan memberikan yang terbaik yang mampu dilakukan
Lelaki dengan keutuhan cinta yang paripurna
Lelaki inilah yang kan kau dapati
Sukabumi, 02 Maret 2009
Catatan:
Aku butuh dua tahun lagi untuk mempersiapkan segalanya
Aku butuh satu generasi untuk memperlihatkan hasilnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar