duhai dinda, terimalah genggaman tanganku
jika ini akan diikat oleh pelangi menjadi abadi
dan hanya jika seperti mercusuar mengundang sampan tuk bersauh
bukalah hatimu, lalu biarkan aku bersama setia ini luruh padanya...
duhai dinda, berdirilah disampingku dan mulai samakan langkah
jika memang kau yakin mentari asa adalah milik kita
dan hanya jika berderap seperti serdadu berparade menuju nirwana
lalu, kita akan menyanyikan ode tentang epos cinta kita
melengking membelah angkasa
meredam hymne nyinyir akan ironi kau dan aku
ironi tentang punguk merentang busur, membidik purnama
duhai dinda, lihatlah pagi telah menjelang
bukan lagi malam berselimut mimpi terselubung temaram
Parung-Merdeka-Batutulis-Sukasari-Warung Jambu-Depok, 30 Oktober 2009
Sebuah Prasasti untuk "Melati Berkerudung Awan Bercadar Embun"
Catatan:
Terima kasih untuk Neka Tragedinita,
ade yang selalu menyemangati aa-nya ini untuk terus mengejar gadis diseberang mimpi,
yang selalu mau berbagi cerita, yang selalu memberi inspirasi,
yang telah menrjemahkan adegan balkon-nya romeo and julliet,
dan yang lain-lainnya...
"ma'af ya de, ini bukan puisi romantis.
soalnya sulit bikin puisi romantis diakhir bulan dan objeknya masih imajiner, hehehehe....."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar