Rabu, 16 Juni 2010

DIALEKTIKA SEPI

I

Demi masa-masa yang tercecer
Demi segala ambisi yang telah terbakar habis
Demi masa lalu yang hilang musnah
Apakah kesejukan itu harus pedih terasa ?
Manakala embun menetes di hati penuh luka
Untuk rasa nyaman itu
Untuk segalanya
Harus sebanyak apa lagi ku bayar ?
Berapa ?

II

"Quo vadis, quo vadis !!!
Terus menggema memekakan telinga
"Quo vadis, quo vadis !!!
Ya! aku mendengar
Aku tidak buta
Aku tahu!!!
Melankolisme adalah tembok ratapan
Sebuah romansa
Ah, itu hanyalah ilusi

III

Cogito ergo sum
Aku berpikir, kenapa luka itu masih tetap saja ada ?
Sebuah fatamorgana tentang panta rei
Tentang sungai yang mengalun dibawah rembulan
Maka, jangan menggoda ku untuk berpikir lagi
Aku muak dilena secawan logika

IV

Seperti waktu yang tak bisa menunggu
Aku pun harus terus berderap
Merayap,
Merangkak...
Bukankah hidup itu adalah gerak ?

Menyapa mu, malaikal maut, di malam ini
Digerbang kematian dibunuh sepi
Diatas luka-luka yang membusukkan hati
Apakah aku harus bergetar karena gentar ?

Saat asa merajai segala kepingan tingkah
Ku tunggu hingga genta batas waktu memenggalnya
Sudahlah, tak akan ku paksakan
Jika pendulum tak jua berayun

V

Aku, si anak hilang
Mencari ruang hati tempat untuk kembali
Untuk sekedar tertidur nyenyak dibalik selimut pengertian
Mencari jawaban dari segala kegelisahan yang ada
Memberi arti atas kata kecewa
Tentang kejujuran yang tertambat
Dan kebohongan adalah suatu pengkhianatan tak termaafkan
Meski konsepsi merupakan harga mati
Aku tetap menanti sang bidadari hingga berkata
Akankah larassatie sudi berkata
"Yakinlah..."

Sukabumi, 11-19 Januari 2009

Catatan:
"Pada malam-malam yang kelewat larut
Saat aku menarik diri dari garis orbitasi
Melambungkan selayang pandang
Menghabiskan secangkir kopi bersama mereka
(Hegel, Kirkegaard, Tan Malaka, Descrates, Marx dan Sarte)
Berbantah kata tentang trauma dan phobia
Trauma adanya di benak, sedang phobia ada di hati
Sebuah kesimpulan adalah "Dialektika Sepi"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar