Rabu, 16 Juni 2010

04:17 PAGI, FAJAR INI HARUS JADI MILIK KITA

I
PADA PERTEMUAN ITU...

Mana tanganmu yang saat itu terulur tuk menggenggam ku yang sedang terlelap?
Mana senyum manismu yang saat itu tersungging untuk ku yang sedang menerawang kelam?
Mana semua itu yang membuat rinduku menginginkan mu selalu?
Yang menyadarkanku bila engkaulah bidadari yang selama ini kucari

II
SAYANG, BERTERIMA KASIH-LAH...

Sayang...
Berterima kasih-lah pada langit yang kelabu
Karenanya lah aku terlindung dari kedipan genit gemintang

Sayang...
Berterima kasih-lah pada angin yang berhembus semilir
Padanya yang menghantarkan bisikku padamu
Menghantarkan getaran yang tercipta diselasar hati

Sayang...
Berterima kasih-lah pada gerimis dan mentari
Pada mereka yang membentuk pelangi
Hingga ku dapat melingkarkannya dijari manismu

III
TENTANG SEBAIT PUISI YANG BERISI RAYUAN UNTUK MU

Bacalah puisiku...
Yang tertulis dilembar cintaku
Yang mendayu-dayu agar kau terayu
Biar dapat slalu kulihat senyum manismu yang melelehkan hati ini
Bacalah...

Bacalah puisiku...
Yang bercerita tentang hati yang tercuri
Yang bercerita tentang aku yang terpenjara cintamu diseumur hidupku
Bacalah puisiku yang bercerita...

Bacalah...
Puisiku adalah untaian kata haru
Puisiku adalah gempita asmara yang hebat
Puisiku adalah...

Bacalah...
Puisiku untuk mu
Puisiku untuk sang gadis yang telah bersedia menjadi detak dalam nadiku
Puisiku untuk sang maharani penawan imaji
Puisiku untuk mu, bacalah...

IV
DI UFUK INILAH PERTAUTAN KITA TERSIMPUL

Bidadariku...
Lekatkanlah dirimu dalam dekapanku
Lekatkan saat kita memandang cakrawala kurun yang kita cita-kan
Lekatkan pada sudut dimana kita, kau dan aku, mestinya bersama

Bidiadariku...
Ingatlah selalu saat kau berucap janji:
Kau kan mengukir namaku disetiap jengkal dinding hatimu,
Disetiap jejak langkahmu...
Dalam arti hadirku, kau yakinkan aku bila kau tak akan pernah beranjak pergi...

Bidadariku...
Pastikan pantulan rembulan ini menjadi milik kita
Menjadi pelita dari gelora didada
Menjadi penerang perjalanan kita melewati gulita

V
KITA DALAM PERJALANAN

Lelapkanlah sejenak lelahmu diperaduan
Biar sesaat setelahnya kita bisa lanjutkan perjalanan ini
Melayari samudera seribu gelombang
Kita tunjukan pada bebatuan karang jika teguh itu bukan hanya diam...

VI
SAAT ITU...

Membayangkanmu berada dalam pelukanku adalah saat yang paling indah dikala kita jauh,

Memahat raut cantik mu hingga terpatri dijiwa
Dirimu bidadari yang melingkarkan sayap asa dalam pelukan cita ku
Dalam kasih sayang tulus yang menjadi kebanggaan hidup untukku darimu
Disini ku kan melukismu, dalam kanvas peri kehidupan kita
Menjadikanmu mahakarya terindah kebanggaanku dan generasi kita kelak

Sayang...
Ku menantikan saat tiara madrasat al ula disematkan padamu

VII
AKTIVITAS PAGI

Sesaat setelah ku rasakan hangatnya mentari pagi,
Aku semakin yakin jika tak ada yang sehangat sapamu
Tak ada yang sehangat genggamanmu pada hatiku sehingga tak bisa terlepas lagi...

Terima kasih sayang, kau hidangkan sarapan pagi ini:
Secangkir teh hangat dan dua bungkus biskuit menemaniku menikmati wajah cantikmu...

Sayang, lihatlah anak-anak kita...
Ingatkan mereka tuk segera bersiap menyambut pagi...


Sebuah Prasasti Untuk Hazar Widya Sarah - Bandung, 07 Mei 2010, 04:17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar